Rabu, 25 Maret 2015

RELUNG-RELUNG HATI - "Damai itu ada pada mata dan bibirmu, Rara." (1996)


1996 - di suatu pagi 


Rara
 terperangah. Geram bukan main. Pipi dan cuping hidungnya memerah menahan marah.  Jari-jemarinya menggenggam erat secarik kertas berwarna merah jambu.

”Huh, sialan!” makinya. ”Si sinting itu lagi,” geramnya bukan main. Matanya membulat gemas memelototi kalimat-kalimat yang tertera di kertas yang digenggamnya. Dibacanya kalimat-kalimat itu untuk kesekian kali. Sebuah surat tanpa identitas pengirim, tersusun rapi dari guntingan huruf-huruf dari majalah;

Rara...
Dalam kelam kau datang, hadirkan riang
Dalam pekat kau datang, berikan terang
Pada ini sekerat hati, berlari mencari damai pergi

xxx

NB:
Damai itu ada pada mata dan bibirmu, Rara
Aku cinta kamu

Jelas sudah bahwa surat gelap itu ditujukan kepadanya, karena hanya dialah pemilik nama itu. Rara menggerutu untuk kesekian kali. Rasanya kejengkelannya sudah mencapai puncak. Bagaimana tidak? Sebulan belakangan ini ia dibuat penasaran oleh si pengirim surat gelap itu. Dan ini kepenasaran dan kegeraman total yang kelima kali dia rasakan.

Pertama kalinya dia tertawa membaca surat gelap yang senantiasa berinisialkan tiga buah huruf 'x' itu. Semula dia tak pernah memperhatikan dan mengacuhkan hal ini. Ia pikir, hal ini pasti dilakukan oleh murid cowok iseng yang ingin menggodanya. Soalnya memang sudah bukan rahasia lagi kalau anak-anak cowok di kelas ini telah menobatkannya sebagai gadis idaman seantero kelas. Sejujurnya, sebagai gadis normal, Rara bangga dengan predikat itu.

Tetapi, lalu surat kaleng kedua dan ketiga datang lagi menyusul. Dan surat yang keempat kalinya membuat sepasang alis matanya terangkat tinggi. Tapi kini, kelima kalinya, alis mata bagus itu tidak lagi terangkat, melainkan menyudut dan bertaut pada pangkal mata, tanda keheranan dan rasa penasaran yang mencapai puncaknya. Hatinya kesal karena ia sama sekali tidak bisa menduga siapa gerangan si orang iseng itu.

Rere melayangkan pandangan ke seputar kelas yang kebetulan masih kosong. Untung hari ini dia datang lebih pagi. Seluruh laci meja di kelas itu diperiksanya satu persatu. Ia yakin si iseng itu pasti orang yang datang pagi-pagi sekali agar dia mempunyai cukup waktu untuk menyusupkan surat tersebut di laci mejanya. Mungkin cukup mudah baginya untuk menerka siapa gerangan si iseng tersebut asal dia bisa menemukan tasnya.

Satu deret meja selesai diperiksa. Sial, ternyata ada lima buah tas murid cowok yang dia temukan. Dari kertas surat yang dia pegang saat ini, kelihatan bahwa kertas surat itu bukan dari kertas buku biasa. Agaknya si pengirim khusus membelikan kertas surat yang cukup bagus dan mahal dilihat dari mutu kertasnya ditambah aroma harum yang tercium.

Sasaran utamanya adalah tas si Jo yang anak juragan minyak itu. Kemudian back-pack 'Eiger'-nya Eric yang kerap membawa Honda Ciello-nya ke sekolah. Masih ada lagi tas Uci, Echa, Rina, Anton, Raihan dan terakhir tas Danny.

Memasuki baris meja kedua, Rara tersentak. Seseorang memasuki ruangan tersebut. Terburu-buru ia berlari menuju mejanya. Bukannya apa-apa, dia tentu saja tidak mau seseorang memergokinya sedang membuka-buka tas orang lain, bisa-bisa dia disangka Klepto! 

"Dukk!!!" arrggghhh, Rara teriak sekencang-kencangnya... di dalam hati. Namun tak urung dia meringis sejadi-jadinya karena lututnya terantuk kaki meja. Sialaaan! makinya menahan sakit. 'Pengacau Sialan!' gerutunya.

Si pengacau itu berjalan tenang menuju bangkunya. Melirik tajam sekilas ke arah Rara yang tengah gelagapan salah tingkah. Dan bertambah salah tingkah lagi ketika mata mereka beradu pandang.

”Eh... hai, ‘Dit!” Rere menyapa Aditya, cowok yang barusan masuk itu, sekedar menyembunyikan kegugupannya sambil menahan sakit. Jangan-jangan dia melihatku sedang memeriksa tas anak-anak barusan, batinnya risau.

”Eh, hai..” balas Aditya datar sambil berlalu menuju bangkunya dan menaruh tas, lalu mengeluarkan buku tulisnya dan langsung asyik menulis. Membiarkan Rara di bangkunya yang mendadak tidak tahu mesti bicara apa.

Kontan Rara tertegun. Astaga,’ni orang!? Orang apa robot? Sombong banget ‘ni cowok, batin Rara tak percaya. Sebegitu cuekkah dia sampai-sampai menjawab salamku pun enggan? Senyum kikuk yang tadi membias di bibirnya mendadak lenyap. Kekhawatirannya menguap. Dan pikirannya tentang surat gelap tadi melayang entah kemana mendapati jawaban Aditya yang seadanya tadi.

”Yuk, Dit. Gue keluar dulu, ya.” sapa Rara sekali lagi. Dan sekali lagi ia mesti terkesima mendapati sahutan pendek cowok itu yang cuma ber-'he-eh' menanggapi senyum termanis yang sengaja dia siapkan. Sialan, makinya lagi. Entah kali yang keberapa dia ucapkan kata makian itu sepagi ini. Ada sejumput perasaan keki dan tersinggung pada cowok itu. Bagaimana tidak? Biasanya anak cowok lain selalu berebut perhatian di hadapannya. Tapi, cowok satu ini, iih, dingin banget. Cuek banget... kayak gunung es aja, batin Rara agak keki karena merasa tak ditanggapi. Teringsut-ingsut ia meninggalkan kelas menuju kantin sambil mengusap lututnya yang lebam membiru.

* * *

Siang pulang sekolah...

Siang hari itu alangkah panasnya. Agaknya prediksi BMKG tentang bakal turunnya hujan hari ini kurang tepat. Entah, barangkali baru sore nanti hujan akan turun. Yang jelas matahari siang di bulan Maret ini begitu menggigit. Belum lagi jalan beraspal yang memantulkan hawa panas dari perut bumi ke permukaan. Ditambah langkanya pepohonan di pinggir jalan, maka lengkaplah penderitaan bagi anak-anak SMA 74 yang harus berjalan kaki ke halte bis. Kendati begitu, pun ceracau-ceracau riang tak urung lepas dari mulut satu-dua diantara mereka, seakan panas tak terasa.

Hari ini memang agak lain Rara rasakan. Dari sejak pagi tadi, rasanya semua berjalan datar begitu saja tanpa sempat dia merasakan apa-apa. Kalau tidak salah, mungkin ini kali pertama Rara menjadi orang yang paling pendiam di kelas tadi. Kontras dengan kebiasaannya selama ini, sebagai seorang gadis cantik, centil dan periang. Sikap aneh Rara kali ini membuat Novi, teman sebangkunya, merasa agak heran.

”Hari ini lo aneh banget, sih, ’Ra,” Novi mengungkap keheranannya selepas dari gerbang sekolah. Jarak dari sekolah ke halte bis cukup jauh, hampir satu kilo meter. Jadi akan terasa jauh tanpa ada obrolan. ”Ada apa, sih?” desaknya lagi.

”Nggak ada apa-apa,” ujar Rara sekenanya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa sikapnya hari ini agak lain. Mungkin karena surat itu, atau bisa jadi karena sikap Aditya terhadapnya yang membuatnya, entah kenapa, sempat keki pagi tadi. Entah mana yang benar. Yang jelas, ada perasaan aneh tiap kali mengingat pagi tadi dia tak diperhatikan oleh cowok lawan bicaranya. Hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

”Sepagian tadi, gue lihat elo bete terus, ’Ra. Elo kan ga pernah kaya gini. Perang sama cowok elo?” selidik Novi.
Rara sesaat tersenyum, sekian detik. ”Cowok gigi lo! Emangnya kapan gue punya cowo?” elaknya.
”Lowh, elo sering bareng sama Eric, ‘kan?”
”Memangnya kalau suka nebeng dia, lantas itu berarti dia pacar gue, gitu? Hue... ga lah, yaa!” Rara mencibir.
”Naah tuh, lo sudah mulai ketawa lagi. Gitu dong, Ra..” Novi balas tertawa.

Diantara teman-teman sekelasnya, memang hanya Novi teman terdekat Rara. Disamping teman sebangku, dia juga paling asyik diajak curhat. Hanya kepadanya Rara bisa menceritakan segala rahasianya. Sebaliknya Novi, dia juga tak pernah segan-segan curhat kepadanya. Kali ini, Rara merasa tidak tahan lagi untuk merahasiakan soal surat gelap itu pada Novi. Lalu diceritakannya semua perihal surat gelap tersebut. Tentang isinya yang selalu bersifat kekaguman dan pujian terhadapnya. Tentang kecurigaan-kecurigaannya kepada orang-orang yang mungkin mengiriminya surat kaleng itu. 

”Yeee, gitu aja kok bingung. Bangga dong, Ra.. dipuji-puji dan dikagumi seperti itu oleh seseorang.”
”Ya iya lah, kalau dia terus terang. Kalau caranya begini, 'kan malah bikin gue jadi penasaran, Vi,” keluh Rara
”Deeeuh... Rhoma Irama, kali.. penasaran!” Tawa Novi, membuat Rara tambah cemberut. ”Oke.. oke.. Coba, deh, elo sabarin aja dulu. Tunggu selanjutnya. Nanti juga, elo pasti bakal tahu siapa pengirimnya. Eh, awas, lowh! Jangan-jangan si pengirim surat itu... si Pak De! Hi...hihi.” canda Novi geli menyebut kata 'si Pak De', pada guru Sastra mereka yang senantiasa bertingkah genit kepada mereka berdua, yang kebetulan duduk di barisan terdepan di kelas. Rara membalas gurauan itu dengan cubitan kecil, memaksa Novi meringis menelan tawanya. Auuuccchhh!

”Elo tahu, donk. Gara-gara mikirin surat itu, pikiran gue jadi nggak menentu belakangan ini.” Rara mengakhiri ceritanya. Lalu diam kehabisan kata-kata. Novi ikutan termangu. Keduanya tiba di halte, kelelahan. Panas dan lelah membuat mereka lebih suka menekuri tanah hingga bis masing-masing yang ditunggu tiba. Keduanya berpisah.

* * *

Relung-relung hati Rara

Kalau Rara bilang pada Novi siang tadi bahwa pikirannya jadi tidak menentu belakangan ini, maka itu benar adanya. Tapi kalau seharian tadi, saat pulang sekolah dan di sekolah, ia selalu murung, maka itu semata-mata bukan karena surat gelap yang ia dapatkan pagi tadi. Bukan. Dan bukan pula Rara murung. Tepatnya, ia tengah dihantui oleh rasa penasarannya akan Aditya, si cowok gunung es itu.

Bukan karena takut dicurigai Adit ia ingat cowok itu saat ini. Tapi tatapan matanya yang begitu dingin, sikapnya yang begitu tak acuh, dan gayanya yang masa bodoh, yang ada dibenaknya saat ini. Semuanya datang tiba-tiba, dan membuatnya tiba-tiba pula dihinggapi perasaan resah. Ajakan mama ke Gelael sampai-sampai ia tolak, penolakan yang membuat mama heran. Tumbenan, ni anak, pikir mama. Novel The Alchemist-nya Paulo Coelho --edisi bahasa Indonesia-- yang baru dibeli dari Gramedia Blok M kemarin sore, pun belum sempat disentuhnya. Padahal Rara paling tidak bisa diam tanpa buku di hadapannya. Keinginannya saat itu hanya satu, tidur!

Namun sudah setengah jam berlalu ia berbaring, matanya masih terbentang lebar. Pandangannya terpaku pada satu titik di langit-langit kamar. Di sudut sana, seraut wajah membias. Perlahan samar, namun makin lama semakin jelas. Wajah tanpa emosinya si Ditya. Menatapnya dingin dan datar.

Baru kali ini Rara memperhatikan cowok itu. Baru kali ini ia kehilangan kebanggaannya di hadapan cowok. Biasanya ia merasakan kebanggaan tiap kali menghadapi cowok-cowok sekelasnya. Betapa dia ingat mereka semua seolah bersaing untuk sekedar mendapatkan sedikit saja perhatiannya. Erick yang mati-matian minta Rara mau jalan dengannya. Baim cowok keren dan pintar yang sering bela-belain ngerjain PR buatnya. Iqbal si bongsor tukang makan yang sering ngajak ke kantin tiap kali tanggal muda.

Tapi lain sekali dengan Adit. Tiba-tiba ia sadar, hampir satu setengah tahun mereka sekelas, rasanya belum pernah ia ngobrol atau sekedar ber-say hi or say hello sama cowok satu itu. Bahkan, heyy!!! rasanya belum pernah Adit mengajaknya ngobrol... sekalipun! Satu-kali-pun!!!. Apalagi memberi perhatian atau mencari-cari perhatian padanya. Ih, rasanya baru kali ini Rara berharap perhatian dari orang lain.

Sepanjang waktu berjalan, pikirannya terpaku pada cowok itu. Ia merasa jengah ketika disadari bahwa sejak tadi matanya terpaku pada sudut langit-langit kamarnya, ditempat mana bayangan wajah cowok itu tergambar samar. Lalu semuanya berjalan tanpa Rara sempat menghentikannya. Ingatannya memutar kembali semua slide memori tentang cowok itu. Dia ingat kini, sikap keseharian Adit di kelas sangat pendiam. Begitu amat-sangat-pendiam banget-banget. Jangankan tertawa ngakak, tersenyum pun hanya sesekali dilihatnya. Rara ingat kini, Adit-lah satu-satunya cowok yang tak pernah menertawakan Pak Isman, guru pikun yang seringkali jadi bahan tertawaan teman-temannya sekelas saat mengajar, sementara Adit masih suka-sukanya bertanya serius ke Pak Isman.

Ia ingat beberapa waktu yang lalu, saat diskusi kelas tentang masalah Sejarah dan Perjuangan, Adit beradu argumentasi dengan Nadya, si juara kelas itu. Waktu itu, jawabannya yang cemerlang sebenarnya, kalo boleh jujur, telah membuat Nadya terpojok dengan sanggahannya. Namun Adit malah mengalah agar gadis tersebut tidak kehilangan muka dihadapan wali kelas dan teman-temannya.

Yang paling berkesan pada Aditya dan baru kini disadarinya adalah, cowok itu selalu menunduk saat bercakap-cakap dengan siswi cewek yang centil yang kerap menggodanya sebagai si Seniman Kere, tanpa pernah sekalipun terlihat tersinggung atau malu. Julukan Seniman Kere yang melekat padanya karena dia memang paling jago menggoreskan pinsil atau conte membuat lukisan sketsa wajah anak-anak, yang bisa dia selesaikan dengan cepat. Vera dan Ully salah dua yang pernah meminta dilukis. Dan hasilnya tak kalah dengan seniman betulan. Dan biasanya anak-anak suka memberinya imbalan ala kadarnya yang tanpa ragu dan malu diterima Adit dengan wajah sumringah. Bahkan Vera paling parah, dia cuma memberi Adit imbalan berupa... 2 buah 'Beng-Beng'. Yang diterima Adit dengan senang hati. Sepertinya tak ada beban baginya menerima julukan ‘Seniman Kere’ itu.
            
Semuanya tiba-tiba saja muncul dalam benak Rara. Begitu jelasnya Rara mengingat semua itu. Ia begitu hapal luar kepala, seakan baru disadari ternyata ia begitu mengenal Adit, cowok yang selama ini tak pernah terpikirkan olehnya.

Rara masih terpekur dikamarnya. Matanya masih terpejam, terbawa arus perasaannya yang melayang layang tak menentu. Benaknya menerawang. Melanglang dalam suasana detak-detak kesejukan. Ya, perasaan ini baru kali ini hadir dalam hatinya, setelah lama sepi. Hatinya kini begitu renyah, diramaikan oleh debar-debar tak menentu namun merdu.

Sore makin tergelincir. Membawa Rara semakin hanyut dalam gemelut relung hatinya. Dan rangkaian lamunannya tiba pada soal surat gelap itu. Mengingat itu semua, benaknya semakin terbebani oleh rasa penasaran akan si pengirim surat tersebut. Ada sedikit perasaan kesal terhadap si pembuat ulah tersebut.

Sekejap Rara tersenyum penuh arti. Ia menemukan cara untuk mengetahui siapa si pengirim surat itu gerangan. Lihat saja nanti, kalau si iseng itu mengirimkan suratnya lagi, pasti aku bisa tahu, senyumnya penuh kemenangan.

Lelah karena kantuknya tak juga datang. Sejak tadi hatinya meletup-letup ria bergejolak dengan ramainya, terbawa lamunannya tentang cowok itu. Sepanjang siang ini benaknya hanya bermain-main dengan bayangan cowok itu.

Dan sekarang ia merasa jengah ketika menyadari ada sesuatu yang tengah ia pendam terhadap Adit, cowok itu. Malu pada dirinya sendiri. Dengan sekuat hati, dicobanya melupakan semua yang baru saja dipikirkannya. Dan ia hampir berhasil melupakan semuanya. Hampir, karena masih ada sejumput bayang wajah Adit bermain di benaknya meski samar. Namun kali ini sepertinya Rara tak berusaha menepis itu semua.

* * *

Relung-relung hati Aditya...

Untuk kesekiannya kalinya Adit mengutuki dirinya sendiri. Menyesali dirinya. Menyesal akan kepengecutannya untuk mencoba menyapa gadis itu, pagi tadi. Sungguh, sebenarnya ingin dia berkata lebih banyak. Setelah semalaman ia berdoa agar mendapatkan kesempatan bertemu dengan gadis itu, kesempatan yang sudah di depan mata malah ia lewatkan begitu saja. Karena seribu kata-katanya tercekat di kerongkongan.

Selalu begitu. Tiap kali menghadapi gadis itu, lidahnya terasa kelu. Ia sadar semuanya itu terjadi karena keadaannya yang serba kurang. Rendah diri. Perasaan itulah yang selama ini senantiasa membelenggunya. Hingga selama ini ia hanya bisa menikmati kerinduannya dalam diam. Itulah yang membuatnya begitu pendiam, sejak kali pertama ia memasuki sekolah favorit ini.

Kadang ia menyesal telah mengenal gadis itu, bahkan jatuh cinta sejak mula pertama mengenalnya pada masa orientasi siswa baru. Dan perasaan satu itu tak mampu dimusnahkannya meski ia berusaha untuk menguburkannya selama hampir satu setengah tahun hingga kini. Dan keberanian yang dinanti yang tak kunjung datang akhirnya memaksanya untuk melakukan hal konyol ini. Entahlah, begitu sulitnya menahan keinginan untuk berbuat ini tiap kali kerinduan akan gadis itu datang menerpanya.

Dan sekarang rindu itu datang lagi. Lalu, dibacanya lagi secarik kertas berisikan sebait puisi yang baru saja ditulisnya. Dibacanya berulang-ulang hingga ia kesal akan dirinya sendiri.

Tiba-tiba kini, ia menyadari akan kepengecutannya. Betapapun ia begitu mencintai gadis itu, rasanya terlalu picik kalau ia harus melakukan hal itu kembali, mengirimkan sepucuk surat gelap kepada gadis itu, Rara.

Putus asa, Adit membatalkan niatnya. Angannya kembali bermain-main melayang. Melambung diantara mega-mega khayalan. Menapaki lintasan waktu untuk membebat rindunya. Rindu kepada segala yang ada pada Rara. Pada matanya, hidungnya, bibirnya, tingkahnya, bahkan detak irama sepatunya yang sudah ia hapal luar kepala. Rara yang begitu lincah dan centil terlihat lembut di matanya. Lincah namun tak berlebihan.

Seandainya ia seorang pelukis sejati, pastilah sosok itu telah menjelma diatas media kanvasnya, dan bukan sekedar ada dalam angannya seperti saat ini. Entah kenapa, meski begitu banyak ia membuat sketsa wajah anak-anak di kelas, tapi tak sekalipun ia mampu melukis wajah yang satu itu. Tiap kali hendak dilukisnya, bayangan wajah itu hilang dari benaknya. Dan ia pun hanya dapat merindukan gadis itu dalam desahnya, tanpa dapat melukiskannya.

* * *
1996 - di suatu sore

Sabtu sore, cerah. Ditengah lalu lalang akhir pekan yang padat. Raka berjalan lesu, dengan kedua tangan di saku celana, menyeruak di antara kepadatan lalu lintas dan pejalan kaki di trotoar. Begitu tak pedulinya ia, sampai-sampai klakson sebuah sedan --disusul suara roda mendecit panjang yang dihentikan secara mendadak ketika ia menyeberang jalan secara sembrono-- pun tak mampu membuatnya terlonjak.

Mood Adit memang lagi enak. Sore ini ia beruntung mendapatkan order lukisan sketsa wajah dari beberapa pengunjung yang tertarik minta dilukisnya. Hasil dari beberapa lukisan itu rupanya cukup untuknya membeli buku materi sekolah yang baru.

Minggu lalu ia dipermalukan oleh Pak Darto, diusir keluar kelas hanya karena tak memiliki buku materi pelajaran Geografi yang memang tebal dan mahal itu. Dan pak Darto yang saklek itu memang tak bisa ditawar-tawar lagi. Pokoknya satu anak satu buku. Tak boleh ada yang pinjam-pinjam atau baca bareng.

Tak ingin julukan 'seniman kere' terus melekat padanya karena ia jarang memenuhi kebutuhan buku materi pelajaran, dipaksanya membeli buku itu sore ini. Kali ini ia memang beruntung karena akhirnya memiliki cukup uang untuk membeli kebutuhannya, meski itu selalu terjadi last minute.

Langkahnya bergegas memasuki Toko Buku Gunung Agung di bilangan Blok M. Keluar dari pintu lift di lantai 5, mendekati pintu masuk, langkahnya tertahan. Matanya tertumbuk pada seorang gadis yang membuat hatinya kontan tercekat, Rara. Dan yang membuatnya lebih susah bernapas, gadis itu menggandeng mesra seorang cowok seusianya.

Sudah terlalu dekat, tak mungkin lagi baginya untuk menghindar, apalagi Rara terlanjur melihatnya dan berseru menyapanya.

”Hai, ’Diit!” serunya riang.
Susah payah Aditya menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. ”Eh, hai juga,” gagapnya.
”Iih, tumben banget ketemu elo disini. Sama siapa, ’Dit?” tanyanya ringan.
”Sendiri,” Adit berujar pendek. Terburu-buru. ”Eh, sorry, ya, Ra.. Gue buru-buru, nih! Duluan, yuk!” ujarnya beruntun. Lebih baik begitu, pikirnya galau. Tak perlu lama-lama ketemu Rara. Salah-salah gue bisa salah tingkah melihat kemesraan mereka berdua, batinnya gundah.

Dan, tanpa menoleh lagi, Adit urung masuk ke Gunung Agung. Hatinya begitu luka. Sia-sia saja lelahnya selama ini. Setelah lama mencari dan mencari kesempatan, setelah terbuang uangnya untuk membeli kertas surat indah itu, setelah terbuang waktunya untuk merangkai angan-angan menulis puisi buat Rara. Hilang lenyap semua. Hilang begitu saja karena pertemuan yang menyakitkan ini. Langkahnya lebar-lebar meninggalkan Rara yang terpaku bersama cowok di sebelahnya, yang juga kebingungan melihat sikap Aditya barusan tadi.

”Siapa sih, Ra?” tanya cowok disebelah Rere itu keheranan.

Rara masih terkesima melihat sikap Adit tadi yang tetap dingin di hadapannya. Terpana oleh sorot mata cowok itu yang menghunjam tajam dan lurus ke ulu hatinya, dengan sinar keangkuhan. Dijawabnya pertanyaan Bimo, anak tantenya itu, dengan gelengan tak mengerti. Lalu digandengnya Bimo meninggalkan tempat itu. Ada sesuatu yang aneh yang tiba-tiba Rara rasakan. Hatinya tergores pedih akan sikap Adit tadi, Namun jauh didasarnya, ada sejumput kerinduan bertumpuk dan mengendap.

Dari kaca etalase yang tersembunyi, Aditya mengekor kepergian Rara bersama cowok itu. Dia sadar, cowok di samping Rara itu memang melebihi dia dalam segala hal. Tanpa ada satu pun yang disisakan buat Adit untuk dapat bersaing. Ditatapnya kedua insan itu dengan helaan nafas panjang. Ditelannya segala angan tentang Rara dengan susah payah. Dibiarkannya kakinya melangkah tanpa arah. Ada sesuatu menyesakkan dadanya. Ia terbanting dan terhempas setelah melambung tinggi di atas mega-mega khayal yang selama ini dibangunnya dengan penuh harap. Dan itu sakit sekali.

Malam itu, ditengah luka hati dan rindunya, kembali tangannya bergerak lincah menggoreskan kata demi kata pada sebuah lembaran berwarna biru.

“Yang terakhir, Ra. 
Maafkan kekonyolan gue selama ini. 
Barangkali gue memang pemimpi,” 
Gumamnya membaca goresan kalimat yang baru diselesaikannya tadi.

* * *

Di sekolah, Senin pagi itu...

 ”Hai..,” sapaan halus itu terlontar dari sebentuk bibir mungil. Memaksa yang disapa melonjak kaget.
”Eh-oh, ...elo? Kok, elo keluar?”
”Iya. Pak Darto juga ngusir gue keluar. Habis, gue nggak tega liat elo diusir sendirian gitu. Gue bilang aja gue ga bawa buku. Sadis banget sih, tu babe,” senyum Rara lembut, sembari menunjuk ke arah kelas ketika menyebut kata ‘babe’ tadi. 

Semalaman ia berusaha mencari cara agar bisa memiliki kesempatan mendekati Aditya. Nalurinya ternyata benar. Setelah menunggu beberapa hari lamanya, ternyata apa yang dinanti-nantikan datang juga. Surat yang keenam ia dapatkan dari laci mejanya, kemarin. Dan Pak Atmo penjaga sekolah yang rajin itu, ternyata sukses menjalankan tugas yang dimintanya untuk mengintai si pengirim surat. Si iseng, pengacau sialan itu ternyata Aditya. Ya, ampun. Entah dia harus kesal atau bersorak gembira.

Rasa penasarannya berganti dengan kegalauan membaca isi puisi terakhir di surat tersebut. Satu hal Rara bahagia karena yang dia rasakan terhadap cowok itu ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Adit ternyata tidak cukup pandai untuk menyembunyikan perasaan dan identitas dirinya. Namun salam terakhir pada surat gelap itu mau tak mau membuat Rara resah menyadari tak akan ada lagi surat berikut.

Beruntung ia memiliki seorang kakak yang berpikiran dewasa dan moderat seperti mbak Ajeng. Semalam tanpa sengaja mbak Ajeng memergokinya ketika ia tengah melamun sambil tangannya tanpa sadar mencoret-coret sebuah nama. Membuat mbak Ajeng mau tak mau tertawa geli. Lalu tanpa ragu lagi Rara menceritakan semuanya kepada mbak Ajeng. Soal surat gelap yang akhirnya dia tahu dari Aditya. Soal perasaannya terhadap cowok itu. Soal sikap Adit yang sebenarnya terhadapnya. Akhirnya mereka berdua pun terlibat dalam suatu diskusi mengenai apa yang dinamakan harga diri.

Kini Rara tengah memberanikan diri mencoba memulai apa yang disarankan oleh mbak Ajeng semalam. ”Siapa tahu berhasil, hi...hi…hi,” terngiang kembali canda kakaknya semalam terakhir kali sebelum meninggalkan kamar Rara sambil tertawa. Ga usah gengsi-gengsi, deh. Cewek nembak duluan sekarang udah umum, kok!? Senyum mbak Ajeng menyarankan, semalam.

Pandangan Rara beralih ke lapangan olah raga. Menikmati permainan basket dari anak kelas lain yang kebetulan sedang berlatih. Sementara Adit duduk bimbang di sebelahnya.

Perlahan Rara menyodorkan secarik kertas warna biru yang dia dapatkan dua hari lalu dan meletakkannya di samping Aditya, membuat cowok itu seketika beku dalam duduknya. Pucat tak bergeming. Rara menyunggingkan sebentuk senyum lembut. Aduuh, jangan-jangan keburu pingsan ni cowok, pikirnya geli.

”Kayanya kita nggak perlu basa basi lagi, deh, Dit.. Gue dapetin ini dari laci meja gue kemarin. Dan gue tahu siapa yang meletakkan ini dari pak Atmo. Ga perlu gue sebutin lagi. Iya, ’kan? Dan gue rasa, elo nggak perlu menyangkalnya lagi, iya ’kan?” senyumnya lagi tulus.

Adit menunduk lesu. Habis sudah. Ia menyesali dirinya sendiri. Menyesali kebodohannya telah menuliskan surat itu dengan tulisan tangannya sendiri, lupa dengan kebiasaannya selama ini. Menyesali keteledorannya tak memperhatikan pak Atmo yang sering datang pagi-pagi menyapu lorong-lorong kelas II di sebelah ruangan kelas mereka.

”Ehmm, gue.. gue minta maaf, Ra,” tersendat ia mengakui. Semakin tertunduk. Rasanya seluruh tubuhnya seperti kehilangan tulang, lunglai tertekan oleh rasa bersalah dan malu yang bukan main. Dibenaknya tersusun kata-kata, namun tak banyak yang mampu dia utarakan.

Rara tersenyum. Pandangannya masih ke lapangan basket tanpa memperhatikan apa yang terjadi disana. Inilah saatnya untuk mengakhiri semua. Sekarang atau tidak sama sekali. Sesuai pesan mbak Ajeng, nggak masalah baginya untuk mengatakan apa yang dia pendam sejauh apa yang dia rasakan ternyata sama dengan yang Adit rasakan terhadapnya.
"Nggak perlu minta maaf, ’Dit. Gue nggak marah, kok.” ucapnya perlahan, namun cukup untuk membuat Aditya tersentak. Sama sekali dia tidak menyangka.
”Elo... eeh, elo nggak marah?” Raka mengulangi seakan tak percaya.
Rara mengangguk pasti, tersenyum manis.
”Eeh, gue... gue nggak tahu mesti ngomong apa.”
”Nggak perlu ngomong apa-apa. Gue nggak marah karena gue tahu pasti elo cuma becandain gue, 'kan?” sergah Rere cepat. Dia ingin menguji sampai sejauh mana kejujuran cowok itu terhadapnya dan terhadap dirinya sendiri. ”Gue tahu itu karena buat gue, elo sama aja dengan cowok-cowok yang lain,” lanjutnya.
”Elo salah! Gue nggak pernah bermaksud iseng becandain elo, kok!” tukas Ditya cepat, sedikit tersinggung dia.
”Jadi?” Rara tertawa dalam hati. Pancingannya mengena. Matanya bulat menatap cowok di hadapannya itu, membuat Ditya jengah dan menunduk. Dalam hati Rara tersenyum, tapi gemas. Arrggh, ni cowok, pemalu banget, sih!?

Ditya mengutuki dirinya sendiri. Ups, Sialan! Kejebak gue. Tapi... aaarrgh, masa bodo deh. Toh gadis itu sudah tahu semuanya. Untuk apa lagi ditutup-tutupi. Bisiknya pada diri sendiri. Setengah mati Aditya mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki, dan sesaat ia berusaha membalas tatapan Rara yang menusuk barusan.
”Sungguh. Gue nggak becanda, Ra,” tukasnya setengah teriak. Dadanya bergejolak, dihelanya nafas berkali-kali. Sebenarnya ia malu berkata yang sebenarnya ke Rara. Tapi apa boleh buat? Sudah kepalang basah pula. Dari pada gue dihinggapi perasaan tertekan nyimpen uneg-uneg gue sendiri. Lebih baik gue jujur aja sekalian. ”Sekali lagi gue minta maaf. Gue harap apa yang gue lakukan ini nggak mengganggu elo, dan eeh.. juga cowok lo.” Berondong Aditya lepas. Plong!!! Hatinya lega. Apa yang dipendamnya selama ini telah dikeluarkannya.

Seketika tawa Rara berderai, geli.
”Kok, elo tertawa? Apa yang lucu dengan ucapan gue barusan?”
”Elo..,” gelak Rara, masih dalam derai tawanya. ”Elo lucu banget kalo lagi serius.”
”Apanya?” Adit kesal merasa ditertawai.
”Eh, gue nggak nyangka, ya. Ternyata elo bisa ngomong juga ya. Gue kira elo tuh type cowok cuek yang nggak bisa ngomong,” ujar Rara dibalik sisa-sisa tawanya. Ada nada bahagia dalam ucapannya mengingat Ditya menyinggung-nyinggung soal cowok yang sebenarnya kakak sepupunya tersebut.

Ditya tersenyum kikuk menanggapi, tak mengerti. Hanya matanya lekat-lekat memperhatikan sederet gigi-gigi Rara yang berbaris rapi. Alangkah manisnya.

”Dit, yang elo maksud cowok yang tempo hari bersama gue waktu kita bertemu di Blok M waktu itu?”
Adit mengangguk lesu.
”Ngaco, ah! Dia itu Bimo, kakak sepupu gue, anak tante gue yang kebetulan lagi liburan semester dari Akmil Malang. Baru seminggu ini dia tinggal di rumah gue,” beber Rara menerangkan. Keterangan yang kontan membuat Adit seakan terlonjak dari tempat duduknya.
”Jadi, bukan ...eh, cowok lo?” Adit menegaskan.
”Ngaco, ah...” senyum Rara lagi. Pandangannya kembali diarahkan ke lapangan. Sesaat kemudian Rara terdiam. Apa yang disarankan mbak Ajeng sudah ia laksanakan semua. Ia tak bisa melangkah lebih jauh lagi. Biar bagaimanapun dia masih memiliki harga diri. Dan harga dirinya melarangnya untuk bersikap lebih jauh dari itu. Saat ini dia hanya bisa berharap. Dan harapan itu rasanya semakin jauh saat disadarinya Aditya kembali dalam diamnya. Putus asa, Rara bergegas beranjak.
”Ra...,” tiba-tiba Aditya menahannya. Entah dari mana keberaniannya datang hingga tiba-tiba saja tangannya telah menggenggam lengan Rara. Menahannya pergi. Dia seakan baru tersadar dengan arti percakapan tadi. Baru sadar bahwa dirinya terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri. Menyadari dirinya terlalu pengecut untuk mengambil resiko Rara bakal menolaknya.
”Elo tahu ‘kan gue nggak becanda? Soal surat-surat gue itu...” Aditya terbata. Rara tertegun. Tenggelam dalam kekeluan lidahnya yang datang tiba-tiba. ”Elo ingat surat gue sebelum yang terakhir kali?” sergah Aditya lagi.

Rara mengangguk, matanya berbinar. Tentu saja dia ingat, bahkan hampir semua surat-surat itu pun dia ingat.
”Boleh ga, gue mengirimkan surat-surat kaya gitu, lain kali?” setengah mati Aditya mengatakan kalimat tersebut. ”Boleh, 'kan?” harapnya lagi.

Rara terdiam. Hanya di bibirnya tersungging senyum tulus. Matanya mengerjap teduh. Mata yang tiba-tiba seperti mengucapkan seribu kata. Mata yang lebih dalam menyiratkan makna, memberikan jawaban kepada Aditya. Dan rasanya Aditya tak perlu lagi mendengar jawaban dari mulut Rara. Karena tanpa bicara sepatah kata pun, Rara menjawabnya dengan membalas genggaman Aditya hangat, sebelum sesaat kemudian mereka tersadar dan melepaskan genggaman tangan mereka dengan senyum malu.
            
Dan rasanya mereka tak perlu bicara apa-apa lagi, ketika relung-relung hati mereka sama-sama menemui sebuah lorong di tempat mana hati mereka akhirnya bertemu.

Keduanya tertawa berbarengan ketika bel pergantian jadwal pelajaran berbunyi. Dan mereka pun memasuki kelas bersamaan, sementara seisi kelas menatap keheranan. Sekejap kemudian kelas mendadak riuh ketika seisi kelas bersorak. Novi menatap bingung ke Rara.

Semantara Rara dan Aditya? Mereka hanya bisa berjalan menunduk dan tersenyum sipu, dengan wajah cerah sumringah.


-Tamat-

 

Semester ganjil di Bendi Raya 47, 1987


(Oktober 1996)

Kamis, 03 Maret 2011

MIRACLE - On the New Year's Eve (2011)


Miracle On the New Year's Eve
Cerpen by: Radika A Habibie


Nama gadis itu Mala. Aku mengenalnya sejak masih di SD. Waku itu aku masih culun, polos, dekil dan masih belum tahu apa-apa soal yang namanya percintaan. Waktu itu temanku sebangku, Maida bilang, "Radika, lu dapet salam, tuh!"
"Salam... dari siapa?" tanyaku balik.
"Itu dari si Mala," jawabnya. Karena dulu aku memang nggak mengerti soal ini, aku hanya menjawab iya, iya dan iya. Yah, boleh di bilang nggak banyak yang aku tahu soal Mala ketika aku di kelas 4.

Waktu di kelas 5 aku juga masih belum kenal Mala. Karena ketika itu aku dan dia berbeda kelas. Aku di kelas 5-2, sedangkan Mala di 5-1. Oya, nama lengkapnya Amalia Nurmala Sari. Nah, waku kelas 5 ini aku mulai mendengar yang namanya "pacaran" dari teman-teman. Aku sendiri belum pernah pacaran. Bukannya nggak mau. Hanya saja aku nggak tahu bagaimana pacaran. Aku sendiri orangnya pendiam dan sangat pemalu. Apalagi yang namanya sama cewek.

Ketika aku kelas 6 SD, barulah aku bisa mengenalnya. Sebenarnya sejak kelas 5 aku sudah mulai suka yang namanya lawan jenis, alias ceweq. Awalnya aku tidak suka sama Mala. Namun setelah beberapa lama duduk di kelas 6, aku bermimpi. Dan di dalam mimpiku itu ada dia, Mala! Sejujurnya, itu merupakan mimpi yang sangat indah.

Sejak mimpi itu, aku sering memperhatikan Mala, memandangi wajahnya diam-diam. Mungkin waktu itu aku mulai jatuh cinta padanya. Hahaha, mungkin ini yang namanya cinta monyet! Tapi sayangnya aku tidak bisa mengatakan semua perasaanku kepadanya. Perasaan itu terus berlanjut saat aku sedikit dekat dengan Mala. Aku senang bisa menjadi teman dekatnya. Sayangnya waktu itu aku lihat Mala dekat dengan salah satu temanku, Adrian namanya.

Aku perhatikan mereka dekat sekali. Ngobrol berdua.. Berhadap-hadapan, lagi... Melihat pemandangan seperti itu sebenarnya sedih juga. Entah bagaimana, perasaanku menjadi aneh. Sahabatku Fajri malah bilang, "Rad.. Rad.. Lihat, tuh Rad!? PDKT.. PDKT.."
"Iya, gua liat, kok!" jawabku singkat dengan nada datar dan wajah sedikit cemberut.
Sebenarnya Fajri bukannya ingin cengin aku. Karena dia juga toh tidak tahu perasaanku terhadap Mala. Dan aku juga tidak pernah terbuka kepada siapa pun soal ini, juga tidak ke Fajri.

Pernah sekali waktu, waktu itu Adrian habis disunat jadi jalannya agak susah. Waktu latihan drama di rumahnya, karena rumah Adrian tingkat dua, saat dia ingin naik tangga, dia agak kesulitan. Lalu, langsung saja Mala datang membantu. Ia menuntun Adrian pelan-pelan. Ya Allah, melihatnya saja hati ini rasanya sakit seperti ketiban pohon. Eh, teman-teman yang lain malah sorak-sorak, "Cieee... Cieeee..." Dan aku hanya bisa diam dan tersenyum dipaksakan. Sakit sekali melihat pemandangan itu. Dan yang paling parah lagi, tiap Adrian ngobrol denganku, dia selalu membicarakan Mala, Mala dan Mala. Arrgggh!!! Itu di hati. Di luarnya aku hanya tersenyum. Sampai akhirnya perpisahan SD, itu moment yang paling mengharukan bagiku.

Memasuki SMP aku mulai merasakan kehilangan. Awalnya aku masih sering sms-an dengan Mala, tapi setelah beberapa lama aku kehilangan nomor handphonenya. Barangkali karena ia mengganti nomer ponsel dan aku juga sempat mengganti nomer tanpa sempat memberitahunya. Aku benar-benar kehilangan kontak. Rasanya, kelas 7 ini merupakan masa terburuk bagiku. Aku mulai berubah menjadi anak bandel. Aku suka membolos. Sering berbohong. Astaghfirullah... Entahlah, bisa jadi ini karena aku sangat kehilangan Mala. Tapi aku beruntung, tidak sampai terjerumus dengan yang namanya merokok, apalagi narkoba.

Berkat teman-teman, aku pun mulai tahu cara mengungkapkan perasaanku kepada lawan jenis. Mereka, teman-teman baruku, memberitahu caranya karena rata-rata hampir semua teman-temanku sudah mengenal yang namanya... pacaran! Hahaha.. Namun, entah kenapa aku tidak tertarik pada beberapa teman perempuan di SMPN 3 sekolahku ini. Yang aku pikirkan hanya Mala, Mala dan Mala. God, seperti tak pernah bosan aku menunggunya, berharap bisa bertemu lagi.

Berlanjut ke kelas 8, aku masih belum dapat kabar soal Mala. Sempat aku putus asa menunggunya. Akhirnya aku dekat dengan seorang cewek, Brenda namanya. Tetangga sepupuku. Sempat PDKT dengannya cukup lama, namun setelah jadian, aku hanya bertahan satu bulan dengan Brenda. Hahaha... aku hanya sucker kalau soal ini.

Setelah aku kenal Facebook, aku coba search facebooknya Mala. Beberapa nama aku coba, tapi hasilnya.. tidak ada. Aku coba tiap aku ada kesempatan online. Hasilnya tetap nihil! Setelah beberapa lama, ada yang mengirim message ke inbox-ku. Namanya 'Amel Ciee Bawel' kalau tidak salah. Aku benar-benar tidak kenal siapa dia. Dia minta nomor HPku. Dan setelah aku melihat profil pic-nya, ternyata... dia adalah Mala! Begitu aku tahu facebooker itu Mala, aku sontak kegirangan. Sampai-sampai temanku, Indra, yang kebetulan ada di sebelahku waktu itu, kupukul! Sangking girangnya. Hahaha... Maaf ya Ndra.

Sejak aku mulai kontak dengan Mala lagi, aku menjadi lebih sering tersenyum. Karena dulu aku sering sedih karena masa-masa suramku di kelas 7. Sekarang aku bisa ngobrol lagi dengan Mala. Ah, senangnya. Meski saat itu yang kami bicarakan cuma sebatas teman-teman dan rencana reunian SDN 07. Tetap saja membuatku seperti hidup lagi. Hahahaha... Setelah beberapa lama, dan menjelang bulan Ramadhan, aku akhirnya nembak Mala. Yap, aku menyatakan cinta padanya. Yeah, aku sudah bosan memendam rasaku diam-diam selama ini. Aku tak peduli apa respon Mala, yang aku ingin hanya dia tahu bahwa aku mencintainya.

Saat itu Mala tidak menjawab atau menanggapi apa-apa. Perasaanku malam itu campur aduk. Gelisah, malu dan takut. Aku takut Mala marah padaku. Akhirnya kami melanjutkan obrolan biasa dengan Mala. Yeah, aku sedikit pesimis untuk mendapatkan cintanya. Dan waktu terus berjalan tanpa aku mendapatkan jawaban.

Lalu aku kenal seorang cewek, Citra namanya. Mulanya dia mengirim message padaku. Lalu aku dan Citra mulai sering sms-an. Dari sms-sms Citra, aku menangkap pesan sepertinya dia suka padaku. Malam itu aku bingung. Aku masih memiliki rasa terhadap Mala. Namun dia tidak juga memberikan jawaban apa-apa. Akhirnya aku mencoba untuk nembak Citra. Ternyata... dia langsung menerimaku! Hahaha, rasanya aneh. Baru saja sehari sms-an dengannya, ternyata aku malah jadian dengannya. Aneh bukan? Hahaha.

Hari-hari sejak Citra hadir merupakan masa-masa yang cukup indah bagiku. Namun, di balik semua itu aku masih memikirkan Mala. Jauh di lubuk hatiku, aku masih ada rasa dengan Mala. Aku masih menunggu waktu dimana aku bisa menjadi pacarnya. Hubunganku dengan Citra juga tidak berjalan lama. Baru jalan 3 bulan, dia pindah rumah. Semula kami bicara baik-baik soal mengakhiri hubungan ini. namun ada perkataannya yang membuatku sakit hati. Dari situ aku mulai membencinya.

Hidupku pun kembali sepi. Biasa-biasa saja. Untungnya aku kenal seorang cewek baik, Dian Rahmawati. Dia sahabat baikku sekarang. Aku dan Dian cukup akrab karena kesamaan selera musik kami, yaitu Korean pop. Kami sering membahas tentang Korea. Sampai-sampai aku memanggil Dian dengan sebutan 'Kakak Ipar', karena saat kami ngomongin soal Kimbum, Dian bilang dia adalah tunangannya Kimbum. Hahaha, khayalan tingkat tinggi dia. Lalu aku menimpalinya mengkhayal dan aku bilang Kimbum itu kakakku. Hahaha. Dari situlah Dian memanggilku 'adik ipar' sebagaimana aku memanggilnya 'kakak ipar'. Mungkin sedikit aneh, tapi aku senang bisa memiliki Dian sebagai sahabatku. Dia ramah, baik dan tempat untukku bercerita setiap aku ada masalah.

Ups, aku hampir lupa menceritakan soal sahabat-sahabat terbaikku. Ilham dan Wibi. Mereka ini lah teman terbaikku selama ini. Ramah, Baik, Konyol pokoknya segala macam predikat adalah pada mereka. Dengan mereka lah aku biasa hang out bertiga. Ngobrol ini dan itu. Kalian memang sahabat-sahabatku yang selalu menyenangkan, bro!

Beberapa waktu lalu aku liburan ke Pelabuhan Ratu, sambil menengok kakeknya sepupuku. Namanya kampung, jadilah disana tidak ada apa-apa dan cukup membosankan. Untuk menghilangkan kejenuhan, aku coba saja sms Mala. Ternyata dia membalas pesanku. Akhirnya kami ngobrol panjang lebar, ini dan itu. Dia cukup tahu tentang Pelabuhan Ratu. Senang rasanya bisa ngobrol dengannya. Malam itu aku banyak tertawa dan sedikitnya membuatku terhibur dan membuang rasa bosan itu jauh-jauh.

Esok harinya aku pergi ke laut dengan kedua orang tua dan adik-adikku serta yang lain. Di sana asyik sekali. Berenang sepuasnya, lalu kami makan ikan bakar. Hmm, makan ikan bakar disini lain. Rasanya jauh lebih segar. Dan ditemani bunyi hempasan ombak, rasanya benar-benar... sempurna!

Aku memandang ke arah laut dan langit sambil membatin, 'andaikan ada Mala di sini. Pasti semuanya akan terasa lebih sempurna'. Kebetulan Ayahku menemukan tempat yang berpasir halus, pantai yang lebih bersih. Karena tempat kami bermain semula begitu banyak karang dan bebatuan. Dan di pantai berpasir itu kutulis namaku "Dika" lalu dibawahnya kutulis "Mala". Dan kuabadikan dengan kamera ponselku. Tapi, karena malu dengan Ayah, maka yang ku-shoot hanya namaku saja.

Beberapa waktu kemudian, tepat dimalam tahun baru 2011, semula aku, Ilham, Alif dan Wibi ingin jalan-jalan ke Jakarta untuk melihat kembang api. Sayangnya Wibi tidak bisa pergi karena harus ke Jogja bersama keluarganya. Aku pun harus ikut keluargaku ke Bandung. Akhirnya aku dan teman-teman membatalkan rencana kami. Lagipula Ilham pergi ke rumah saudaranya. Tapi ternyata saat jam 7 malam, Ibuku bilang aku tidak perlu ikut ke Bandung. Akhirnya aku pergi ke warnet. Niatnya sekalian menunggu larut malam. Padahal sebenarnya aku ingin juga ke Bandung.

Ketika aku sedang online, Mala mengirimkan pesan.
"Hey, lagi ngapain..?"
"Lagi di warnet aja. BT ga jadi tahun baruan sama temen-temen," kataku.
"Tahun baruan bareng gua, yuk!?" ajak Mala kemudian.
"Lo emang dimana, sama siapa?"
"Gue lagi di Blueberry regency, bareng temen gua."
"Dimana, tuh La? Hehe maklum gua anak kampung ga tau tempat itu. Lagian, gua 'kan ga kenal sama temen lo. Nanti gua diam-diem aja lagi.."
"Tenang aja, lo sama gua ya..."
"Ooh, ya udah. Ok!"

Saat itu aku benar-benar senang sekali. Celakanya, Rofi juga mengajakku tahuan baruan. Duh, bingung juga aku mesti memilih Mala atau dengan teman-teman. Ya, Tuhan.. baru saja aku mau bertemu dengan perempuan yang dari dulu aku idamkan, Rofi malah mengajakku jalan. Biar bagaimanapun aku harus solider dengan teman, tapi aku juga ga mau melewatkan kesempatan dengan Mala ini.

Akhirnya terpaksa aku merelakan tidak bertemu dan tahun baruan dengan Mala. Aku mengajak Alif ke rumah Rofi. Ternyata di rumah Rofi sepi. Padahal kata Rofi rame, ada Denny dan AG. Akhirnya kami tahun baruan bertiga. Niatnya mau jalan-jalan. Tapi tiba-tiba Mala sms dan bilang mau ngajak ketemuan di lapangan Graha. Senangnya bukan main aku saat itu. Tanpa pikir panjang aku langsung menjawab 'iya'!. Dan langsung saja aku mengajak Rofi dan Alief segera ke lapangan Graha. Di jalan begitu ramai. Suasana keramaian malam tahun baru seperti mewakili perasaanku saat itu. Di tengah kegembiraan, aku memainkan klakson motor kami. Berisik sekali. Tapi, its cool. It's so excited!! Aku menikmati keramaian itu di tengah kegembiraanku. Yipiiiiy!!!

Sesampainya di lapangan, disana ramai sekali. Ada yang duduk-duduk, ada yang dangdutan (karena kebetulan di lapangan ada dangdut), dan lain-lain. Sambil menunggu Mala, aku, Rofi dan Alief ngobrol dan becanda. Akhirnya datang seorang cewek berambut sedang, berkuli putih dan wajahnya sudah tidak asing bagiku. 'Amalia Nurmala Sari'!!! "Ya Allah, inikah Mala yang dulu kukenal? Dia sangat berbeda sekali semenjak terakhir aku bertemu, batinku tak menentu. Antara kagum dan rindu. Aku menatap Mala, hampir tak berkedip. Untung saja waktu itu malam dan tidak terlalu terang. Kalau tidak, barangkali dia bisa melihat seperti apa ekspresiku waktu menatapnya.

Saat itu waktu tepat menunjukkan pergantian tahun, jam 12 malam. Selamat tinggal 2010, selamat datang 2011. Selamat tinggal kesedihan, selamat datang keceriaan, batinku tersenyum. Sesaat kemudian aku dan teman-teman memutuskan untuk berjalan-jalan mengikuti orang lain yang ramai di sekitar itu. Alief berboncengan dengan Rofi dan aku,,, memboncengi Mala!!! Rasanya??? Hahaha, kalian tahulah seperti apa rasanya orang yang baru ketemu dengan orang yang dikangeni. Senangnya ruaaarrr biasa! Malu, tentu saja. Akhirnya aku mengajaknya berputar-putar keliling regency. melihat kembang api yang indah dan berwarna-warni. Aku dan Mala bicara banyak hal, tapi sejujurnya aku sangat grogi malam itu. Yeah, maklum saja, aku sudah 3 tahun tidak melihatnya. Setelah puas menyaksikan kembang api, akhirnya kami semua sepakat ke rumah Mala. Walaupun semula Rofi tidak setuju.

Di rumah Mala, aku dan Mala terus ngobrol sepanjang waktu. Ada saja yang kami bicarakan. Tanpa terasa, lewat dari jam 1 dini hari. Aku baru ingat pesan dari orang tuaku agar aku tidak pulang terlalu malam. Akhirnya aku pamitan dengan berat hati. Rasanya aku masih ingin lebih lama lagi disana.

Aku, Rofi dan Alief bergegas pulang malam itu. Sempat kami tersesat dan melalui jalan yang salah beberapa kali, bahkan sampai memasuki... kuburan! Hahahaha. Kami semua ngeri dan ketakutan. Untunglah akhirnya ketemu jalan keluar. Setelah mengantar Rofi pulang, aku mengantar Alief dengan motorku. Sesampai di rumah, aku terkejut sekali karena orang tuaku masih menunggu. Katanya budheku mendadak kurang sehat. Jadilah aku ikut ke Bandung. Waaa, senangnya.

Sumpah, malam itu aku senang sekali. Malam tahun baru itu seperti 'a Big Miracle in the New Year's Eve'.. Bertahun baruan dengan teman-teman se-gank, bertemu dengan Mala... dan kumpul bersama keluarga ke Bandung.

Keesokan harinya aku bilang ke Mala kalau aku sangat senang sekali malam itu. Ternyata dia juga merasakan hal yang sama. So, semenjak hari itu aku semakin dekat dengan Mala. Aku makin sering sms-an. Dan, sempat kukirimkan sepenggal puisi untuknya. Dan, akhirnya kemarin, 21 Januari 2011, aku kembali menyatakan perasaan cintaku pada Mala. Perasaan yang sama seperti dulu kembali aku rasakan. Namun kali ini dia memintaku untuk memberinya waktu. Tentu saja aku memberinya waktu. Aku juga menceritakan hal ini ke Dian, dan dia memberikan aku dukungan. Akhirnya setelah aku menunggu, tak kusangka pas 24 Januari 2011 Mala memberikan jawaban. Ia menerimaku!

Aku sempat tak percaya. Sampai-sampai aku harus memastikannya dan kutanya lagi ia beberapa kali. Hingga aku yakin bahwa ia menjawab "ya". Sungguh, aku tidak tahu mesti berkata apa. Senang tentu saja. Betapa senangnya karena penantianku selama ini, selama 3 tahun menunggunya, menunggu seorang Amalia Nurmala Sari, akhirnya tidak sia-sia. Aku sangat bahagia bisa memilikinya sekarang. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan seorang yang telah lama kucintai. I love you from yesterday, now and forever!

I love you, I need you
I love you, I need you
Now, our love has just begun
Please promise it upon the fifth finger

 The time that feels like a dream
The happy beginning
Pray for them before going to sweet sleep
I love you, I need you
Forever...

*** The End ***
Radika A. Habibie
Januari 2011